
Dukungan terhadap Front
Pembela Islam (FPI) terus mengalir. Jika umat Islam, tentu sudah menjadi
kewajiban mendukung aksi Amar Ma'ruf Nahi
Munkar dan berdiri bersama-sama saudara Muslim menegakkan kebenaran dan
membela saudara-saudara Muslim dari fitnah orang-orang kafir. Setelah
perwakilan dari berbagai ormas Islam besar dan masyarakat Muslim pada umumnya
menyatakan dukungan mereka terhadap FPI, ternyata ada juga seorang Kritstiani
yang mendukung FPI. Berikut adalah tulisan seorang Kristiani berjudul
"Saya, seorang Kristian Mendukung FPI", yang dikutip dari kompasiana.com:
Siapa yang tak mengenal
FPI? Tiga huruf itu adalah singkatan dari Front Pembela Islam. Ormas Islam yang
sering dikait-kaitkan dengan ‘tradisi’ kekerasan. Pada dasarnya prinsip utama
FPI adalah menegakkan Amar Maruf Nahi
Mungkar [mengajak kebaikan dan memerangi kejahatan] tapi apa boleh buat,
media sudah ‘berhasil’ mengekspos FPi dengan ‘budaya’ kekerasannya dan
(kebanyakan) orang Indonesia sudah memberi nilai buruk terhadap FPI. Saya
sebagai seorang Kristiani (penganut Katholik) sedikit miris ketika media
memberitakan kekerasan-kekerasan yang dilakukan FPI. Dan saya pun sempat merasa
tidak suka dengan keberadaan FPI di Indonesia. Mulai dari tragedi Monas,
penutupan bar, demo anti miras, dll. Saya merasa bosan dengan
kekerasan-kekerasan yang dilakukan FPI. Dan masyarakat pun seakan juga tak
setuju jika FPI memakai ‘embel-embel’ Islam. Karena menurut mereka, Islam itu
damai, mencintai perbedaan dan bukan kekerasan.
Seiring berjalannya waktu, tak terdengar berita tentang FPI.
Tiba-tiba Indonesia dikejutkan dengan berita ‘Penolakan FPI di Palangkaraya’.
Sejenak saya tercengang. Seketika itu pula saya mulai penasaran dengan FPI.
Mengapa FPI sampai ditolak di Palangkaraya?. Saya mencari info-info.
Hingga saya mulai merenung, mengapa masyarakat tidak berpikir
‘apa yang melatarbelakangi FPI untuk melakukan kekerasan’. Sejak itu saya
menyimpulkan, bahwa pasti ada sebab yang membuat FPI beraksi.
Contohnya, saat FPI melabrak belasan anggota PDIP bertemu dengan mantan anggota
PKI di Blitar. Menurut saya, FPI telah berusaha menghilangkan keberadaan PKI
sampai pada akar-akarnya. Dan itu saya setuju. Walaupun hanya bertemu ‘mantan’
anggota PKI, jika pertemuan itu terjadi berkala bisa memungkinkan PKI tumbuh
kembali di Indonesia. Kemudian soal Demo Miras, itupun saya juga setuju.
Pemerintah macam apa yang berani mencabut UU larangan Miras? itupun FPI masih
disalahkan. Padahal jika langkah yang digagas pemerintah untuk mencabut UU
larangan miras, mau jadi apa negeri ini? jadi negeri yang menghalalkan miras?.
Itu saja dua contoh yang ‘me-miris-kan’. Tidakkah media memberitakan ketika
anggota FPI membantu mengevakuasi 70.000 korban tsunami Aceh? Tidakkah media
memberitakan ketika FPI mendirikan posko bencana gunung Merapi?, sungguh aneh.
Dan pencarian info
tentang FPI terus saya lanjutkan. Saya singgah di sebuah forum di internet yang
notabene menghujat dan menolak FPI. Tapi ada satu komentar yang menarik menurut
saya untuk dibagikan kepada member Kompasiana. User
itu bernama adiet87smg, dia
menulis:
“hidup d jman skrg emang
aneh. kbodohan udh ada dmana2, orang mau berbuat baek aja susah. jadi inget tuh
pas jamanx nabi. nabi aja pas dakwah n ngajak manusia kpd kebaikan, mlh beliau
dilempar pke kotoran. gile bgt kand? sama kyak skrg, ngajak orng brbuat baik eh
malah dimusuhin, dikutuk, n disuruh bubar. bner2 jman edan kali yak!”
Saya jadi teringat ketika ada demo penolakan FPI di bundaran HI.
Kebanyakan dari peserta demo adalah kamum gay, lesbian, tuna susila, dan
semacamnya. Wajar jika mereka menolak FPI, karena memang status mereka
bertentangan dengan agama. Dan kagetnya lagi, saya mendapat info bahwa
penggerak demo Penolakan FPI adalah Ulil Abshar Abdalla, fungsionaris
partai Demokrat yang sedang terjerat kasus korupsi dan disebut-sebut juga
sebagai anggota JIL [Jaringan Islam liberal]. Wow. Pantas saja Ulil Abshar
Abdalla menggerakkan massa untuk menolak keberadaan FPI, karena FPI telah
mencatut namanya sebagai salah satu oknum yang bersembunyi di Partai yang kebanyakan
anggotanya sedang terjerat kasus korupsi. Tentang berita penolakan FPI di
Palangkaraya, itu juga disebut-sebut sebagai upaya Ulil Abshar Abdalla
untuk ‘memusnahkan’ FPI dari dunia ini. Padahal warga Dayak sendiri yang
meminta FPI berdiri di Kalteng
Saya sebagai penganut Katholik, mendukung upaya FPI untuk
memerangi kejahatan.
Penulis:
Lia Christine
Tidak ada komentar:
Posting Komentar